Jumat, 30 April 2010

STANDAR KUALITAS AIR MINUM

Standard Kualitas Air Minum

Parameter Air Permukaan ( Surface Water )

Adapun parameter yang mempengaruhi air permukaan adalah sebagai berikut :

· Kecerahan dan Kekeruhan

Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan merupakan ukuran trasparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk. Secchi disk dikembangkan oleh Profesor Secchi pada sekitar abad 19, yang berusaha menghitung tingkat kekeruhan air secara kuantitatif. Tingkat kekeruhan air tersebut dinyatakan dengan suatu nilai yang dikenal dengan kecerahan secchi disk (Jeffries dan Mills, 1996).

Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai ini sangat dipe­ngaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, dan padatan tersuspensi, serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran. Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah.

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain (APHA, 1976; Davis dan Cornwell,1991).

Kekeruhan dinyatakan dalam satuan unit turbiditas, yang setara dengan 1 mg/liter SiO2. Peralatan yang pertama kali digunakan untuk mengukur turbiditas atau kekeruhan adalah Jackson Candler Turbidimeter, yang dika­librasi dengan menggunakan silika. Kemudian, Jackson Candler Turbidime­ter dijadikan sebagai alat baku atau standar bagi pengukuran kekeruhan. Satu unit turbiditas Jackson Candler Turbidimeter dinyatakan dengan satuan 1 JTU. Pengukuran kekeruhan dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter bersifat visual, yaitu membandingkan air sampel dengan air standar.

Selain dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter, kekeruhan sering diukur dengan metode Nephelometric. Pada metode ini, sumber ca­haya dilewatkan pada sampel dan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh bahan-bahan penyebab kekeruhan diukur dengan menggunakan suspensi polimer formazin sebagai larutan standar. Satuan kekeruhan yang diukur dengan metode Nephelometric adalah NTU (Nephelometric Turbidity Unit) (Sawyer dan McCarty, 1978). Satuan JTU dan NTU sebenamya tidak dapat saling mengonversi, akan tetapi Sawyer dan McCarty (1978) mengemukakan bahwa 40 NTU setara dengan 40 JTU.

Menurut Lloyd (1985), peningkatan nilai turbiditas pada perairan dang­kal dan jernih sebesar 25 NTU dapat mengurangi 13% - 50% produktivitas primer. Peningkatan turbiditas sebesar 5 NTU di danau dan sungai dapat mengurangi produktivitas primer berturut-turut sebesar 75% dan 3% - 13%. Padatan tersuspensi berkorelasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi, nilai kekeruhan juga semakin tinggi. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Misalnya, air laut memiliki nilai padatan terlarut tinggi, tetapi tidak berarti memiliki kekeruhan yang tinggi.

Kekeruhan pada perairan yang tergenang (lentik), misalnya danau, lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus; sedangkan kekeruhan pada sungai yang sedang banjir lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan tersuspensi yang berukuran lebih besar, yang berupa lapisan permukaan tanah yang terbawa oleh aliran air pada saat hujan. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sisir osmoregulasi, misalnya pernafasan dan daya lihat organisme akuatik, serta dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air. Tingginya nilai kekeruhan juga dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan .

· Bahan Organik

Semua bahan organik mengandung karbon (C) berkombinasi dengan satu atau lebih elemen lainmya. Bahan organik berasal dari tiga sumber utama sebagai berikut (Sawyer dan McCarty, 1978).

1. Alam, misalnya fiber, minyak nabati dan hewani, lemak hewani, alka­loid, selulosa, kanji, gula, dan sebagainya.

2. Sintesis, yang meliputi semua bahan organik yang diproses olehi manusia.

3. Fermentasi, misalnya alkohol, aseton, gliserol, antibiotika, dan asam, yang semuanya diperoleh melalui aktivitas mikroorganisme.

Karakteristik bahan organik yang membedakannya dari bahan anorganik adalah sebagai berikut (Sawyer dan McCarty, 1978).

1. Mudah terbakar.

2. Memiliki titik beku dan titik didih rendah.

3. Biasanya lebih sukar larut dalam air.

4. Bersifat isomerisme:

beberapa jenis bahan organik memiliki rumus molekul yang sama.

5. Reaksi dengan senyawa lain berlangsung lambat karena bukan terjadi dalam bentuk ion, melainkan dalam bentuk molekul.

6. Berat molekul biasanya sangat tinggi, dapat lebih dari 1.000.

7. Sebagian besar dapat berperan sebagai sumber makanan bagi bakteri.

Parameter Air Tanah ( Groundwater )

· Besi

Keberadaan besi pada kerak bumi menempati posisi keempat terbesar. Besi ditemukan dalam bentuk kation ferro (Fe2+) dan ferri (Fe3+). Pada per­airan alami dengan pH sekitar 7 dan kadar oksigen terlarut yang cukup, ion ferro yang bersifat mudah larut dioksidasi menjadi ion ferri. Pada oksidasi ini terjadi pelepasan elektron. Sebaliknya, pada reduksi ferri menjadi ferro terjadi penangkapan elektron. Proses oksidasi dan reduksi besi tidak melibat­kan oksigen dan hidrogen (Eckenfelder, 1989; Mackereth et al., 1989).

Fenomena serupa terjadi pada badan sungai yang menerima aliran air asam dengan kandungan besi (ferro) cukup tinggi, yang berasal dari daerah pertambangan. Sebagai pertanda terjadinya pemulihan (recovery) kualitas air, pada bagian hilir sungai dasar perairan berwarna kemerahan karena terbentuknya Fe(OH)3 sebagai konsekuensi dari meningkatnya pH dan terjadinya proses oksidasi besi (ferro) (Cole, 1988).

· Mangan

Mangan (Mn) adalah kation logam yang memiliki karakteristik kimia serupa dengan besi. Kadar mangan pada perairan alami sekitar 0,2 mg/liter atau kurang. Kadar yang lebih besar dapat terjadi pada air tanah dalam dan pada danau yang dalarn. Perairan asam dapat mengandung mangan sekitar 10-150 mg/ liter. Perairan laut mengandung mangan sekitar 0,002 mg/liter (McNeely et al., 1979). Kadar mangan pada perairan tawar sangat bervariasi, antara 0,002 mg/liter hingga lebih dari 4,0 mg/liter. Pada air minum, kadar mangan maksimum 0,05 mg/liter (Moore, 1991). Perairan yang diperuntukkan bagi irigasi pertanian untuk tanah yang bersifat asam sebaiknya memiliki kadar mangan sekitar 0,2 mg/liter, sedangkan untuk tanah yang bersifat netral dan alkalis sekitar 10 mg/liter.

· Kesadahan

Kesadahan (hardness) adalah gambaran kation logam divalen (valensi dua). Kation-kation ini dapat bereaksi dengan sabun (soap) membentuk en­dapan (presipitasi) maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air membentuk endapan atau karat pada peralatan logam.

Pada perairan tawar, kation divalen yang paling berlimpah adalah kalsium dan magnesium sehingga kesadahan pada dasarnya ditentukan oleh jumlah kalsium dan magnesium. Kalsium dan magnesium berikatan dengan anion penyusun alkalinitas, yaitu bikarbonat dan karbonat.

Kesadahan pada awalnya ditentukan dengan titrasi menggunakan sabun standar yang dapat bereaksi dengan ion penyusun kesadahan. Dalam perkembangannya, kesadahan ditentukan dengan titrasi menggunakan EDTA (ethyene diamine tetra acetic acid) atau senyawa lain yang dapat bereaksi dengan kalsium dan magnesium.

save water world with our hand







Air merupakan sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik untuk di konsumsi maupun digunakan untuk kepentingan lain. ” Air ” adalah semua air yang terdapat pada atas, maupun bawah permukaan tanah. Air dalam pengertian ini termasuk air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang dimanfaatkan di darat. Karakteristik sumber daya air amat dipengaruhi aspek topografi dan geologi serta keragaman penggunaannya. Oleh karena faktor topografi dan geologi, maka kuantitas dan kulaitas air amat bergantung pada tingkat pengelolaan sumber daya air masing-masing.



Air Permukaan (Surface Water)
Air tawar berasal dari dua sumber, yaitu air permukaan (surface water) dan air tanah (ground water). Air permukaan adalah air yang berada di sungai, danau, waduk, rawa, dan badan air lain, yang tidak mengalami infiltrasi ke bawah tanah. Areal tanah yang mengalirkan air ke suatu badan air disebut watersheds atau drainage basins. Air yang mengalir dari daratan menuju suatu badan air disebut limpasan permukaan (surface run off) dan air yang mengalir di sungai menuju laut disebut aliran air sungai (river run off). Sekitar 69% air yang masuk ke sungai berasal dari hujan, pencairan es/salju (terutama untuk wilayah ugahari), dan sisanya berasal dari air tanah. Wilayah di sekitar daerah aliran sungai yang menjadi tangkapan air disebut catchment basin.


Air hujan
Air hujan yang jatuh ke bumi dan menjadi air permukaan memiliki kadar badan-bahan terlarut atau unsur hara yang sangat sedikit. Air hujan biasanya bersifat asam, dengan nilai pH sekitar 4,2. Hal ini disebabkan air hujan melarutkan gas-gas yang terdapat di atmosfer, misalnya gas karbondi¬oksida (CO2), sulfur (S), dan nitrogen oksida (NO2) yang dapat membentuk asam lemah (Novotny dan Olem, 1994). Setelah jatuh ke permukaan bumi, air hujan mengalami kontak dengan tanah dan melarutkan bahan-bahan yang terkandung di dalam tanah.

Air Tanah ( Groundwater )
Air tanah (groundwater) merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah. Air tanah ditemukan pada akifer. Pergerakan air tanah sangat lambat, kecepatan arus berkisar antara 10-10 – 10-3 m/detik dan dipengaruhi oleh porositas, permeabilitas dari lapisan tanah, dan pengisian kembali air (recharge). Karakteristik utama yang membedakan air tanah dari air permukaan adalah pergerakan yang sangat lambat dan waktu tinggal (residence time) yang sangat lama, dapat mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Ka¬rena pergerakan yang sangat lambat dan waktu tinggal yang lambat tersebut air tanah akan sulit untuk pulih kembali jika mengalami pencemaran.



hal ini lah yang terjadi jika sejak sekarang kita tak memperdayakan air dengan bijaksana.


Kekeringan dimana-mana, suhu bumi meningkat, kapasitas air tawar yang semakin berkurang ,penyakit pun selalu up to date. Dunia semakin berumur, maka seharusnyalah dunia layak untuk di rawat oleh tangan kita sendiri sebagai makhluk penghuni nya.

Jumat, 05 Maret 2010

10 mitosTidak Benar Tentang Olahraga


1. Bila anda Kurus, Anda Bugar

Banyak yang beranggapan bahwa kalau kita kurus maka tidak usah berolahraga, padahal kurus bukanlah suatu petunjuk dari bagaimana efisiensinya kerja Jantung, Paru-Paru dan Otot atau mempunyai Kebugaran Jasmani yang baik.


2. Keluar Keringat berarti Hilangnya Berat Badan

Bila berkeringat, berat badan hanya akan berkurang untuk sementara saja dan ketika kita minum maka akan kembali lagi, hal ini terjadi karena hilangnya cairan di dalam tubuh dan bukan oleh hilangnya Lemak. Sama halnya dengan bersauna atau berolahraga ditengah hari dengan memakai jaket yang dapat menyebabkan hilangnya air untuk sementara, bahkan hati-hatilah karena hal ini bisa membahayakan yakni tubuh mengalami kekurangan air.


3. Sit-Up akan Menghilangkan Lemak di Perut

Mitos ini berkembang hanya berdasarkan pada pengurangan setempat (Sport Reducing) yang disebabkan terjadinya penguatan di otot perut dan menjadi lebih kencang. Pengurangan lemak akan terjadi kalau secara rutin kita melakukan olahraga yang bersifat aerobik seperti Jalan, Jogging, Berenang, Senam Aerobik dll. serta pengurangan dari masukan kalori dan biasanya Lemak akan terkurangi secara proporsional.


4. Pacuan Listrik dapat mengurangi Lemak dan Menambah Kekencangan Otot

Bila hal ini bisa terjadi…….. alangkah mudahnya dan enak betul ……. Karena biasanya alat ini dipakai dalam fisioterapi untuk tujuan rehabilitasi atau digunakan untuk relaksasi otot sebagai pengganti Massage atau pijat penyegaran.



5. Otot akan berubah menjadi Lemak bila Berhenti Berlatih.

Katanya, para mantan atlit yang telah berhenti berlatih olahraga atau orang yang tadinya aktif berolahraga kemudian berhenti, banyak yang mengalaminya.
Bagaimanapun juga Lemak tidak dapat berubah menjadi otot atau sebaliknya, akan tetapi bila kita berhenti berlatih atau berolahraga maka otot akan tidak terlatih dan kehilangan kekuatannya. Serta bila kita terus makan banyak (karena kebiasaan ketika menjadi atlit yang harus makan banyak), maka hal ini akan menyebabkan sel-sel lemak menjadi lebih besar.


6. Selulit adalah Lemak yang Khusus dan bisa dihilangkan dengan Krem

Selulit adalah Lemak dan Lemak adalah Lemak. Lemak tertimbun di antara jaringan ikat di bawah kulit dan menjadi selulit yang tampak, hilangkan Selulit dengan olahraga yang berkesinambungan serta diet pengurangan makanan dan jangan hanya diolesi dengan kream.


7. Denyut Jantung yang Rendah berarti anda Bugar.

Dengan berolahraga yang terukur dan teratur dapat menurunkan Denyut Jantung pada waktu Istirahat, Akan tetapi bagaimanapun juga kalau hanya dilihat dari hal ini saja, tidak akan bisa langsung menunjukan tingkat Kebugaran.
8. Berlatihla sampai sakit

Rasa sakit merupakan tanda peringatan dari tubuh, untuk itu perhatikanlah badan anda, tidak ada mekanisme fisiologis yang menyebabkan rasa sakit yang dapat memberikan keuntungan pada badan anda. Yang paling tahu akan kondisi anda adalah diri kita sendiri, berolahragalah sesuai dengan kemampuan.


9. Pemanasan dan Peregangan Hanyalah Buang Waktu

Warming Up atau Pemanasan yang dilanjutkan dengan Peregangan merupakan suatu proses usaha penyesuaian dari tubuh sebelum melakukan suatu aktifitas olahraga dan hal ini sangatlah penting serta harus dilakukan agar tubuh kita bisa terhindar dari berbagai kemungkinan cedera, baik cedera otot, cedera persendian.


10. Banyak Terdapat Kemunduran Fisiologi bila Menjadi Tua


Meskipun ada kecenderungan dapat menurunnya penampilan fisik pada usia lanjut, tetapi pada umumnya kita masih bisa melanjutkan aktifitas olahraga untuk meningkatkan kebugaran sesuai dengan batasan umur dan kemampuan.

Rabu, 03 Maret 2010

ikhtiar kunci untuk mewujudkan universitas idaman


Tulisan dibawah ini dibuat dalam mengikuti lomba blog UII :

“ Universitas idaman bagi penulis adalah sebuah universitas yang mampu meningkatkan kesadaran , kemauan dan niat serta mengajak para mahasiswa-mahasiswinya untuk selalu berikhtiar di jalan yang di ridhainya”…

“Maka sehebat apapun suatu kampus/universitas didirikan, akan tetap nol hasilnya bila dari diri manusia itu sendiri ( mahasiswa/i) tidak mau melakukan bahkan enggan berusaha”.

Tulisan berikut tidak repost, murni, dan untuk itu perlu diketahui bahwa tulisan yang ada dalam blog ini dibuat oleh penulis dengan teramat sadar , dalam kondisi yang aman , nyaman , tentram. Ditemani si hitam putih tv lapuk yang sudah hidup dari pagi, dan sebuah laptop 14 inchi yang sudah tidak lemot lagi.

Profil penulis dapat dilihat pada detail blog yang telah ada, namun untuk pengenalan lebih lanjutnya dikira penulis sangat lah diperlukan, demi menjaga tali silaturahmi antara penulis dan agan-agan pembaca sekalian. ( kaskuser, he…). Baiklah , penulis blog yang ada pada halaman ini adalah seorang mahasisiwi dari perguruan tinggi swasta di Indonesia. Telah tiga tahun menduduki kursi yang tak empuk-empuk, padahal kalo empuk kan bisa lebih menunjang dalam perkuliahan, makin semangat, mata semakin lebar untuk mendengarkan serentetan nasihat serta ajaran dari bapak serta ibu dosen. Dan selama tiga tahun tersebut, telah banyak hal yang penulis alami. Mulai dari permasalahan kampus hingga luar kampus. Kebetulan penulis adalah warga pendatang dan bukan warga lokal. Sehingga permasalahan tersebut harus diatasi dengan mandiri dan jerih payah sendiri.

Kampus/universitas bagaikan rumah kedua bagi kita, dan agan-agan sekalian. Rumah yang setiap hari menjadi tempat tinggal dalam melakukan bermacam-macam aktifitas. Dari pagi hari hingga siang hari. Sangatlah wajar, apabila kita mengidam-idamkan suatu tempat tinggal yang walaupun hanya sementara ini menjadi sangat nyaman. Sehingga kita yang notabene sebagai mahasiswa-mahasiswi serta karyawan pun semuanya menjadi betah ketika harus datang ke kampus. Bahkan hal ini akan memberikan dampak positive bagi mahasiswa-mahasiswi itu sendiri, presentasi kehadiran 75% insyaallah akan di raih. Dan mungkin akan mencapai 100% , apabila kampus idaman telah terwujud.

Setelah melakukan survey dengan 50 responden yang merupakan (mahasiswa-mahasiswi dan karyawan) dengan cara memberikan lembar kuisioner, tentang sebuah universitas seperti apakah yang mereka idam-idamkan. Maka penulis dapat menyimpulkan tentang hasil survey tersebut. Yang dapat dilihat sebagai berikut:

Diagram kepuasan mahasiwa/I terhadap suatu universitas


· Kriteria 1 : Menambah dosen pengajar yang berkualitas dengan standar pendidikan minimal S2.

· Kriteria 2 : Meningkatkan fasilitas universitas/ kampus dalam menunjang program pendidikan dan kenyamanan mahasiwa-mahasiwi, staff pengajar dan karyawan.

· Kriteria 3 : Memperketat standar masuk universitas/kampus, dalam rangka meningkatkan mutu kualitas dan meningkatkan SDM mahasiswa-mahasiwi.

· Kriteria 4 : Meningkatkan security/keamanan universitas yang bukan saja untuk meminimalisir kejahatan, namun menghilangkan kejahatan yang kerap terjadi, seperti : pencurian dsb.

· Kriteria 5 : Menambah koleksi buku di perpustakaan beredisi dari dalam maupun luar negeri untuk menambah referrensi mahasiswa-mahasiwi.

· Kriteria 6 : Menambah bandwidth di setiap fakultas, untuk menyeimbangkan antara jumlah mahasiwa/i yang terdapat di kampus.

· Kriteria 7 : Menambah staff pengajar/dosen terbang di berbagai jurusan yang kompeten di bidangnya.

Dari hasil yang dapat kita lihat pada diagram di atas membuktikan bahwa ketidakpuasan para pengguna kampus, seperti mahasiswa-mahasiswi, masih dalam taraf yang lumayan tinggi, dan semuanya di maksudkan demi meningkatkan mutu SDM dari mahasiswa-mahasiswi tersebut. Bagaimana kah dengan harapan mereka, agar kampus/universitas tersebut menjadi lebih baik sesuai dengan yang mereka idam-idamkan??akankah kampus atau universitas tersebut dapat mewujudkan keinginan mereka??

Terlepas dari hal tersebut. Masalah yang teramat penting namun sering terlupakan sebenarnya bagi suatu universitas dalam meningkatkan mutu dan SDM mahasiswa-mahasiswi adalah NIAT, KEMAUAN, dan USAHA yang datang dari setiap individu mahasiswa-mahasiswi itu sendiri. Manusia selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah mereka dapat, lupa akan bersyukur. Sehingga kekurangan masih saja tetap dirasakan. Maka sehebat apapun suatu kampus/universitas didirikan, akan tetap nol hasilnya bila dari diri manusia itu sendiri ( mahasiswa/i) tidak mau melakukan bahkan enggan berusaha.

Marilah, bersama-sama kita jadikan masalah ini sebagai pemotivasi agar kita semua bisa berpikir terhadap permasalahan dan perubahan (taghyir) yang kelak akan terjadi, agar semuanya dapat diatasi dengan lancar, tidak stagnant di tempat serta mendapat kan ridho dari Allah SWT. Karena segala usaha yang kita lakukan adalah Allah SWT yang menentukan. Seperti tertera pada firman Allah SWT, sebagai berikut :

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Atas dasar firman Allah SWT tersebut diatas, maka upaya untuk mewujudkan perubahan (taghyir) adalah dilakukan dengan perjuangan yang baik dan sempurna, memperbagus uslub-uslub serta potensi-potensi yang sebenarnya telah ada. Akhir kata, semoga blog yang penulis hadirkan disini akan dapat memberikan rahmat serta akan mendatangkan faedah bagi yang membacanya. Wassalamualaikum wr. wb.

Sekian dan terima kasih.